LAGI-LAGI TENTANG BEM UNHAS BELAJAR POLITIK DARI FH, FKG, DAN LAINNYA
Celakalah siapa saja yang mengusik akhir pekan para pekerja.
Sebagaimana tulisan ini hadir dari sebuah bentuk keterusikan. Bagaimana tidak, akhir pekan yang mestinya saya nikmati secara syahdu justru saya buka dengan menulis. Sebetulnya pun tidak ada keharusan, apalagi permintaan. Murni karena terusik, Pembaca sekalian.
Terusik karena apa lagi kalau bukan ribut-ribut BEM-U Unhas di sosial media. Akan tetapi, yang membikin saya terusik sebenarnya bukanlah wacana pembentukan BEM-U itu sendiri. Keterusikan perihal yang satu itu sudah saya bahas dalam banyak tulisan sebelumnya dan saya rasa tidak perlu pula saya uraikan kembali cara pandang saya terhadap BEM-U. Karena hingga sekarang pun tidak akan berubah, bahwa BEM-U lahir dari rahim PTNBH, oleh karena itu menerima BEM-U berarti kompromis terhadap PTNBH.
Alih-alih kembali membuka pembahasan BEM-U Unhas dari nol, saya akan menyorot dan memfokuskan biji mata saya pada reribut yang selalu meresponsnya. Semoganya, ada suatu tawaran yang bisa dipertimbangkan bagi Pembaca sekalian.
Jadi begini, drama yang merusak akhir pekan ini sebetulnya hanya merupakan babak baru dari satu pertunjukan lakon yang telah usang. Pertanyaannya, mengapa anak-anak Unhas masih saja kagetan. Tidak pernahkah mereka belajar?
Barang siapa menoleh sedikit ke belakang, niscaya mafhum bahwa perkara BEM Universitas bukanlah berita kemarin petang. Jauh sebelum menjadi riuh yang saban tahun diperdengarkan, embrionya telah menyelinap sejak PTNBH mulai diperkenalkan di Unhas.
Marketing-nya pun itu-itu saja sedari dulu. Ruang demokrasi mahasiswa-lah, ya wadah representasi bersama-lah, mitra kritis kampus-lah. Maka, tiada alasan kiranya bagi pembaca untuk terperanjat apabila tahun ini narasi-narasi ini didendangkan kembali.
Pembaca tiada perlu pula terkejut apabila tahun ini BEM-FH dan FKG kembali berdiri pada barisan yang mendukung pembentukan BEM-U. Apabila ditarik ke belakang, kecenderungan ini bukan pula satu hal baru. Jadi, jangan bayangkan para Presiden BEM yang terhormat itu bangun pada suatu pagi, mengucek mata, lalu seketika mendapat semacam wahyu untuk mendukung BEM-U.
Khususnya pada BEM-FH, sedari mula, bahkan semenjak PTNBH masih berupa cetak biru bagi Unhas, BEM-FH telah mengeluarkan sinyal arah politiknya. Salah satu peristiwa yang acap kali dikenang ialah ketika Presiden BEM-FH kala itu, Ahmad Tojiwa Ram, menghadiri FGD mengenai PTNBH pada September 2015, ketika sebagian besar mahasiswa Unhas yang tergabung dalam Aliansi Unhas Bersatu mengambil sikap menolak.
Peristiwa itu, terlepas dari silang pendapat mengenai legitimasi dan skala representasinya, menjadi penanda bahwa sejak fajar PTNBH, telah timbul riak-riak di antara lembaga mahasiswa Unhas perihal cara menyikapi arah baru tata kelola kampus ini. Dalam pada itu, sebagaimana telah kita lihat, BEM-FH merupakan salah satu rahim tempat berseminya anasir mahasiswa yang mengambil posisi kompromi terhadap PTNBH.
Garisnya kian nyata pasca PTNBH resmi diberlakukan. Tatkala sebagian besar elemen mahasiswa bersepakat mendirikan Serikat Mahasiswa Unhas (Semaun) sebagai simpul perlawanan terhadap PTNBH beserta seluruh prasyarat administratif yang menyertainya, BEM-FH justru menjadi salah satu lembaga yang lebih dahulu beringsut dari barisan tersebut.
Pola ini berlanjut ketika Federasi Mahasiswa lahir sebagai rumah bagi lembaga-lembaga yang tetap menolak PTNBH dan BEM-U, di mana FH kembali memilih jalan yang berlawanan. Akan tetapi, kali ini BEM-FH tidak sendiri, sebab di dalam barisan yang berkompromi terhadap PTNBH dan BEM-U ini juga tampil nama-nama fakultas dari rumpun kesehatan, yang salah satunya tiada lain ialah FKG. Tatkala beberapa lembaga mesti menghadapi pembekuan dari kampus sebagai konsekuensi atas pilihan politiknya untuk kukuh menolak PTNBH plus BEM-U ini, poros FH-FKG justru berjalan mapan dan mantap.
Kendati demikian, terdapat satu periode ketika FH tampak mengambil jarak dari BEM-U, yakni pada kontestasi Presiden BEM tahun 2021. Kala itu, FH memiliki calon presidennya sendiri. Akan tetapi, forum justru menjatuhkan kemenangan kepada Imam Mobilingo dari Fakultas Kedokteran, yang kali ini ditopang oleh poros rumpun kesehatan, termasuk FKG, sekaligus memecah kongsi para pendukung BEM-U.
Saya mengurai rentetan peristiwa ini bukan untuk menghakimi BEM FH, FKG, ataupun lembaga-lembaga lain yang sedari dulu mengambil sikap kompromi terhadap pembentukan BEM-U. Justru sebaliknya, saya rasa ada satu hal yang patut kita pelajari dari cara mereka berpolitik.
Dari aspek politik, saya melihat adanya sebuah pewarisan pengetahuan serta kesinambungan sikap politik di tubuh para komprador PTNBH ini. Sederhananya begini, jika hari ini lembaga-lembaga ini kembali mendukung BEM-U, sesungguhnya mereka hanya sedang melanjutkan jalan yang telah lebih dahulu dirintis oleh para kakanda mereka sejak tahun-tahun sebelumnya. Walau jalan ini pulalah yang membentuk mereka menjadi kalangan aktivis kompromis-oportunis, setidaknya mereka punya strategi untuk bertahan dan bergerak.
Berbanding terbalik dengan para komprador PTNBH, segenap kekuatan yang hingga kini berdiri di seberang BEM-U acap kali harus memulai kerja-kerjanya dari titik mula. Terjadi semacam diskontinuitas strategi politik yang di dalamnya ketika setiap kali lakon BEM-U kembali dipentaskan, ia direspons seolah-olah hal baru.
Diskontinuitas strategis semacam inilah yang pada akhirnya akan menggerogoti gerakan. Energi yang semestinya dipakai untuk melangkah lebih jauh justru habis terlebih dahulu untuk meraba-raba kembali jalan yang hendak ditempuh. Tidak ada kesinambungan strategis yang memungkinkan kerja-kerja orang lama diteruskan oleh orang-orang baru. Setiap pergantian generasi yang terjadi minimal delapan bulan sekali seakan memutus benang yang telah susah payah dipintal oleh generasi sebelumnya.
Di titik ini saya mencoba mendiagnosa ihwal penyebab hal tersebut. Tetapi perlu diingat, bahwa saya tidak hendak mengajukan jawaban yang pasti, jadi anggaplah ini menjadi sekadar dugaan yang mengandung kemungkinan keliru.
Begini, untuk menganalisis apa yang terjadi pada lembaga-lembaga yang menolak BEM-U, kita tidak boleh abai terhadap pembekuan pada 2019 lalu. Pembekuan tersebut, menurut hemat saya, tidak hanya melumpuhkan fungsi organisasi, tetapi turut memutus mata rantai pewarisan politik. Dalam pada itu, lembaga-lembaga tersebut dihilangkan kemampuannya untuk bekerja secara normal. Sekadar bertahan sebagai ruang kaderisasi saja sudah ngos-ngosan, bagaimana hendak bicara tentang meneruskan strategi politik?
Anasir-anasir dari lembaga yang telah dibekukan ini, lantaran keterbatasan ruang, akhirnya membawa masing-masing sebagian pemahaman dan ingatan yang tidak lagi utuh, untuk kemudian saling berjejaring dan bertahan dalam bentuk akar-akar rimpang. Dalam hal ini, rimpang memang punya kelebihan untuk menjalar ke banyak arah, hidup tanpa satu batang tunggal, dan tetap bertahan meski salah satu bagiannya dipangkas.
Namun, justru karena terlalu cair itulah ia sukar melembagakan sebuah strategi politik. Tidak ada batang yang cukup kokoh untuk menyimpan seluruh ingatan, sebagaimana tidak ada struktur yang cukup tetap untuk memastikan suatu keputusan politik benar-benar diteruskan menjadi kerja politik. Lebih dari itu, tidak tersedia mekanisme yang memungkinkan pekerjaan hari ini akan diteruskan oleh orang-orang yang datang kemudian. Tak dapat dipungkiri pula, kemampuannya menghimpun banyak orang merupakan kekuatan tersendiri. Akan tetapi, menghimpun kerumunan dan membangun politik sebagai sebuah kesinambungan adalah dua perkara yang berbeda.
Ditambah lagi dengan fase demobilisasi massal gerakan mahasiswa dalam periode Covid. Bagi organisasi yang kelembagaannya tetap utuh tanpa pernah mengalami pembekuan, pandemi hanyalah jeda. Mereka masih memiliki rumah untuk kembali ketika keadaan berangsur pulih. Lain perkara bagi organisasi yang sebelumnya telah dibekukan. Bagi mereka, pandemi menjadi semacam pukulan kedua yang kian mempersempit ruang gerak strategis.
Memang benar, beberapa lembaga penolak BEM-U kemudian berhasil kembali menjalankan fungsi organisasinya secara normal pasca pembekuan. Akan tetapi, energi mereka sering kali lebih dahulu habis untuk menjahit akar-akar rimpang tadi. Dan oleh karena ini pulalah, kekuatan penolak BEM-U tidak pernah benar-benar kemana-mana. Orang-orangnya banyak datang silih berganti, tetapi kerja-kerja politik jarang ada yang sempat dituntaskan apalagi diwariskan sama sekali. Ketika satu generasi memulai kemudian generasi berikutnya datang untuk memulai lagi, lalu kapan pekerjaan selesai?
Padahal, kerja-kerja politik pada hakikatnya adalah kerja-kerja akumulasi. Sebuah perubahan dimungkinkan apabila setiap generasi meneruskan, mengevaluasi, dan menyempurnakan kerja-kerja dari generasi sebelumnya. Inilah barangkali salah satu perkara besar yang hendak diajarkan oleh MDH. Saya rasa, percuma saban tahun mengkaji MDH kalau gagasan besarnya hanya berhenti sebagai bahan jago-jagoan mencari keberadaan tuhan dan saling menguji siapa yang paling materialis.
Ingat! Ingat hukum perubahan. Pada titik tertentu, akumulasi yang berlangsung secara kuantitatif terhadap waktu, massa, pengalaman, pengetahuan, kader, jaringan, sumber daya, hingga posisi politik, akan mencapai batas tertentu dan melahirkan perubahan yang bersifat kualitatif. Akan tetapi, mau kapan datangnta perubahan itu kalau pekerjaan selalu dimulai dari nol?
Ironisnya, mereka yang selama ini dilabeli oportunis plus kompromistis lantaran sikapnya terhadap PTN-BH dan BEM-U, yang barangkali memahami MDH setengah-setengah, justru bisa jadi lebih tekun menjalankan MDH ketimbang mereka yang mengaku berdiri di garis progresif-revolusioner. Walau mungkin secara tidak sadar, lihat saja bagaimana para kompromis-oportunis itu sedikit demi sedikit mengakumulasi massa, kader, jaringan, pengalaman, posisi kelembagaan, dan legitimasi politik di seputar BEM-U dan PTNBH. Sementara itu, para progresif-revolusioner masih sibuk menghafal hukum perubahan kuantitatif-kualitatif.
Jadi, saya rasa, energi gerakan seharusnya tidak lagi dihabiskan untuk sekadar terkejut terhadap keputusan politik BEM FH, FKG, ataupun lembaga-lembaga lain yang seporos dengan BEM-U. Yang jauh lebih mendesak adalah melembagakan kekuatan politik yang kontinu, yang menunjang pewarisan pengetahuan politik serta pendokumentasian dan pemetaan konfigurasi politik, sehingga strategi dapat melampaui satu kalender kepengurusan.
Pendek kata, gerakan tidak selalu kalah karena kurang massa, kurang berani, ataupun kurang marah. Selama gerakan tidak menjadikan organisasi sebagai pijakan dan politik sebagai panglima, saban tahun pula ia tidak akan kemana-mana; hanya di tempat; kaget dan meraba-raba.
Barangkali sampai di sini dulu omong-omong saya.
Akhirul kalam....
-ef

Tidak ada komentar: