Mei dan ingatan yang tak pernah selesai
Bulan Mei selalu datang dengan kalender yang tampak sibuk. Ada tanggal merah, ada ucapan seremonial, ada poster peringatan yang bertebaran di media sosial, juga pidato-pidato formal tentang perjuangan, pendidikan, kebangkitan, dan reformasi. Namun yang jarang diingat, hampir seluruh tanggal penting di bulan ini tidak lahir dari situasi negara yang baik-baik saja. Peringatan-peringatan itu muncul justru dari retakan sejarah, ketika rakyat dipaksa memperjuangkan haknya sendiri karena negara gagal, abai, atau bahkan menjadi pihak yang menindas.
Mei menjadi padat oleh simbol karena bulan inilah
Indonesia berkali-kali menyaksikan wajah paling telanjang dari relasi negara
dan warganya: ketika buruh menuntut upah layak tetapi dibungkam, ketika
mahasiswa menuntut demokrasi tetapi ditembak, ketika rakyat meminta keadilan
tetapi dijawab dengan kekerasan. Di
balik poster ucapan yang kini rutin dipasang instansi pemerintah, tersimpan
deretan luka yang sebagian besar belum pernah benar-benar dipulihkan.
Hari Buruh Internasional, misalnya, saban tahun
dipenuhi jargon penghormatan terhadap pekerja. Pemerintah berbicara tentang
produktivitas, kesejahteraan, dan kemajuan industri. Tetapi sejarah perburuhan
Indonesia menyimpan satu nama yang selalu kembali sebagai pengingat bahwa
negara tidak pernah sungguh hadir di pihak buruh: Marsinah.
Marsinah adalah
buruh perempuan muda berusia 24 tahun di Sidoarjo yang pada awal Mei 1993 ikut
mengorganisir aksi mogok kerja untuk menuntut kenaikan upah dan perbaikan
kondisi kerja. Setelah aktif mendampingi rekan-rekannya dalam perundingan, ia
menghilang pada 5 Mei. Tiga hari kemudian, tubuhnya ditemukan tak bernyawa
dengan jejak penyiksaan berat. Hingga hari ini, lebih dari tiga dekade setelah
pembunuhan itu, kasus Marsinah tetap menjadi salah satu pelanggaran HAM paling
gelap yang tak pernah diusut tuntas.
Ironinya, setiap
Hari Buruh negara terus memproduksi seremoni penghormatan bagi pekerja,
sementara keadilan untuk Marsinah, ikon
perjuangan buruh yang nyawanya direnggut karena menuntut hak paling dasar saat ini masih menggantung tanpa
jawaban. Bahkan ketika namanya diusulkan sebagai pahlawan nasional, banyak
aktivis menilai penghormatan simbolik itu tidak berarti apa-apa selama negara
belum berani mengungkap siapa pembunuhnya dan siapa yang melindungi mereka.
Marsinah
menunjukkan satu hal yang pahit: di negeri ini, perjuangan buruh mudah
diperingati, tetapi keberanian buruh yang benar-benar melawan ketidakadilan
justru kerap dibiarkan mati sendirian.
Ironi serupa muncul
sehari setelahnya, ketika Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional.
Pemerintah memajang wajah Ki Hadjar Dewantara, mengutip semboyan Ing Ngarsa Sung Tuladha, dan berbicara
tentang pentingnya mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun realitanya, kampus dan ruang pendidikan di
negeri ini justru berkali-kali menjadi tempat lahirnya oposisi karena negara
terlalu sering gagal mendengar suara publik
Mahasiswa turun ke
jalan bukan semata karena mereka membenci negara, melainkan karena ruang dialog
berkali-kali ditutup, kritik dicurigai, dan tuntutan perubahan diperlakukan
sebagai ancaman.
Puncaknya terjadi
pada 12 Mei 1998.
Di halaman Universitas Trisakti, demonstrasi damai
mahasiswa yang menuntut reformasi dibalas peluru aparat. Empat mahasiswa diantaranya Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin
Royan, dan Hendriawan Sie tewas ditembak. Mereka datang
membawa tuntutan demokrasi; negara mengirim mereka pulang sebagai jenazah.
Hingga hampir tiga dekade berlalu, keluarga korban dan kelompok masyarakat
sipil masih menagih penyelesaian hukum yang tak kunjung dituntaskan.
Penembakan itu
bukan insiden yang berdiri sendiri. Ia adalah titik ketika negara
memperlihatkan watak paling telanjangnya: memilih peluru ketika argumen tak
lagi mampu mempertahankan kekuasaan.
Belum sempat publik
selesai berkabung, 13 hingga 15 Mei 1998, Jakarta dan sejumlah kota lain
meledak dalam kerusuhan. Ribuan bangunan dibakar, lebih dari dua ribu orang
meninggal, dan sedikitnya 168 kasus kekerasan seksual terhadap perempuan terutama perempuan Tionghoa tercatat oleh tim relawan kemanusiaan.
Namun bahkan sampai hari ini, negara masih berkutat pada pengingkaran,
tarik-ulur narasi, dan penyelesaian yang tidak pernah sungguh memulihkan
korban.
Dari sanalah
kemudian lahir 21 Mei yang kini dikenang sebagai Hari Reformasi: hari ketika Soeharto meletakkan jabatan setelah 32 tahun
berkuasa.
Tetapi Reformasi
kerap diperingati seolah ia hanya kisah sukses pergantian rezim sebuah transisi demokrasi yang selesai
dalam buku pelajaran. Padahal Reformasi sesungguhnya adalah monumen dari
kegagalan negara yang menumpuk terlalu lama: korupsi yang menggurita,
militerisme yang brutal, kebebasan sipil yang dibungkam, dan ketimpangan sosial
yang membuat kemarahan rakyat tak lagi bisa ditahan.
Reformasi tidak
lahir dari kemurahan hati penguasa. Ia
lahir karena rakyat memaksa sejarah bergerak. Karena mahasiswa menduduki gedung parlemen. Karena buruh turun ke jalan. Karena
masyarakat sipil menolak tunduk. Karena
korban berjatuhan.
Bahkan 20 Mei yang diperingati sebagai Hari
Kebangkitan Nasional pun sesungguhnya menyimpan pesan serupa: bangsa ini
berkali-kali hanya menemukan momentum untuk bangkit ketika negara tidak
menyediakan cukup ruang untuk hidup secara adil.
Maka tak berlebihan
bila bulan Mei selalu terasa sesak. Ia
sesak oleh daftar nama yang belum mendapat keadilan. Sesak oleh korban yang belum mendapat pemulihan.
Sesak oleh janji negara yang belum pernah lunas.
Ada tagihan atas Marsinah yang dibunuh karena
membela buruh.
Ada tagihan atas peluru Trisakti yang tak jelas siapa penarik picunya.
Ada tagihan atas perempuan-perempuan korban perkosaan Mei 1998 yang selama
bertahun-tahun justru dipaksa membuktikan bahwa luka mereka nyata.
Ada pula tagihan atas Reformasi yang setelah hampir tiga dekade masih
meninggalkan demokrasi yang pincang.
Setiap Mei,
pemerintah bisa saja mengunggah poster ucapan, menyelenggarakan upacara, dan
mengulang pidato-pidato nasionalisme. Tetapi
ingatan publik tidak sesederhana itu untuk ditenangkan dengan seremoni.
Sebab bagi rakyat, Mei bukan sekadar bulan
mengenang perjuangan.
Mei adalah bulan
ketika sejarah datang membawa kuitansi, lalu menagih satu per satu utang negara
yang belum dibayar.
Dan selama tagihan
itu belum lunas, Mei tidak akan pernah terasa sebagai bulan peringatan.
Ia akan selalu
terasa sebagai bulan gugatan.

Tidak ada komentar: